Rabu, 09 April 2014

Surat dari Mba Maya



06/04/2014 [22:40] saat dapat sms dari Epi. Langsung tergerak hatinya untuk menulis surat untukmu (barangkali karena gak punya pulsa juga.. :p)

Assalamualaikum, kawan karibku yang saya cintai :) Nafisah Zamardi yang selalu saya rindukan.

EPIII AKU KANGEN KAMU! Sontak itu yang paling pengen saya luapkan. Setelah satu semester berlalu di asrama baru, sedikit-BANYAK hal yang mengubah saya dengan segala paradigma. Yang membawa pada keterombang-ambingan konsistensi diri. Dan sekarang, saya mencoba meneguhkan diri untuk bisa berpuas diri pada diriku dengan segala kapabilitas yang ada dan tidak menjustifikasi bahwa ‘merekalah yang patut saya tiru’, tapi memantapkan keyakinan bahwa, ‘aku adalah aku, dan aku bukan seperti mereka.’ Dan faktanya adalah, setiap kali mengingat kalimat penyemangat itu, satu sosok yang selalu dikenang adalah –EPI. Thats the point i should highlight about.
Epi bagaimana kabarmu? Baik sajakah? Semoga sehat. Semoga selalu ceria. Bergelut di hobimu. Bahagia. Sentosa.
Saya rindu dirimu. Rindu saat kita masak bareng setiap pagi. Sok jago masak. Sok luang. Mengetuk pintumu karena bahan makanannya di kamarmu. Masa bihun. Sarden. Sambil nonton tv. Di pagi hari. Ke perpus kota nyari inspirasi *saking nganggurnya mungkin. Mewah banget, ya? atau barangkali luang banget? Sekarang agendaku padat banget, pi. Bukan hal yang kemudian saling ngece satu sama lain karena kepadatan. Tapi karena sangat kurang manajemen waktu. Sungguh, pi. Lingkungan asramaku sedemikian rupa sehingga kami dipadatkan agenda asrama kelas pagi dari jam tahajjud sampai jam tujuh. Atau kelas malam dari maghrib sampai jam 9. Pernah sampai jam 11. Kondisi akademik memaksaku belajar lebih keras. Ya, jelas. Tuntutan organisasi memaksaku bertindak profesional dan nggak egois. Dan mimpi? Ya, itu yang agaknya saya ingin ulas. Barangkali, harapannya kau akan membalas suratku dengan sederet pencapaian yang sudah kau raih, pi. Saya sangat rindu. Membuat novel. Essay. Puisi. Aiiish, esensi anak sastra ataupun bulaksumur itu memang beda. Kapan kamu jadi editornya? Saya tunggu.

Barangkali, bukan karena aku menanggalkan mimpi yang sempat kita rajut bareng. Pergi ke hotel phoenix pemburu beasiswa. Asramaku isinya orang2 keren, pi. Ada ketua lembaga di sini, petinggi organisasi, mapres. Esensi yang dulu kukagumi, dan sekarang aku berada dalam atmosfer seperti ini, tiba2 merasakan bagaimana ‘berat’nya beban seperti mereka dengan segala tuntutan yang ada.
 Mungkin karena epi mengambil ranah literasi –soshum. Saya sains. Tidak bermaksud mendikotomikan secara subjek. Tapi kapabilitas yang kemudian saya ekspansikan.
Sekarang saya aktif di lembaga penelitian sains. PKM, masih ingat? Alhamdulillah, kemarin pkm-gt didanai. Dan pun sekarang pkm-m dan pkm-kc saya lolos. Juga finalis di unair kompetisi essay. Doakan semoga sukses. Dunia riset mulai saya coba geluti. Setelah sempat semester 3 kacau, didoktrin pemikiran menjadi fisika teoritik. Belakangan saya baru menyadari atas ketidakmampuan saya, sehingga saya mencoba memastikan bahwa niat saya mengambil cabang fisika terapan, bukanlah sebuah fluktuasi semangat belaka. Oh, ya. untuk pkm-m, saya harap ini menjadi salah satu usaha saya untuk bisa berkontribusi di masyarakat.
Satu lagi, saya masuk (untuk kedua kalinya) ke gc. Di divisi pengabdian masyarakat. Belum ada sama sekali agenda. Kotar-katir saya mencoba mencari lembaga yang bisa memberikan wadah untuk berkontribusi.mulai dari gemabi (yang sekarang vakum), gmm (dalam proses birokrasi merger dengan bem-km). Sekarang di gc. Tapi juga belum ada kabar. Saya hampa. Butuh wadah untuk bisa berkontribusi ke masyarakat, pi.

Soal mimpi memang nihil ya. kenapa tadi saya sempat mengesampingkan bicara soal mimpi. Karena saya rindu. Setiap dengan epi. Bisa menceritakan cerita yang ‘wah’, tapi nyatanya saya sekarang dikelilingi orang yang dulu saya anggap ‘wah’ dan tertekan cukup di sini. Saya mulai sadar bahwa orang yang dulu saya (atau mungkin kita) kagumi, cukup homogen di satu bidang. Dan saya ingat berbagai prestasimu yang unik dan merepresentasikan banget ciri khasmu. Nari. Jualan. Buat novel. Nulis puisi. Aku kangen kamu, pi...
Barangkali karena beberapa faktor mungkin. Karena saat itu kondisi saya pun masih sangat labil. Buat novel, tapi dapat writers block terus. Ikut exchange program, pernah dua kali saya terima, tapi kemudian atas pertimbangan banyak hal saya nggak jadi ambil. Termasuk agenda (yang dulu pernah kuceritakan) saat selected participant di asean conference, saya merasa itu hanya euforia yang nggak ada impact berkelanjutan. Jadi ibarat gelombang, kembali ke posisi awal. dan pahitnya, sekarang justru saya stagnan. Saya kehilangan identitas. Payah, belum kenal diri sendiri, pi. Have no motivation at all.
Saya semenjak di asrama mencoba bersikap lebih dewasa. Menghentikan sikap kekanak-kanakan, tapi malah kehilangan motivasi belakangan ini. Hilang arah. Dan sekarang,  harapan saya, bisa membangun kembali sebuah mimpi yang lebih nyata untuk masa depan. Saya yakin kamu sudah. Kamu dengan segala sastra dan seni yang kamu bangun. Hobimu itu indah. Membangun mimpi dari hobi itu memang paling indah. Jadi ingat, quotesku sendiri kalau mimpiku terlalu indah untuk bisa diabaikan. Sialnya aku sempat mengabaikannya pi. Aku selalu mencoba mengingatmu untuk merajut lagi hal tersebut.
Terakhir, aku ingin dengar cerita versimu. Sungguh. Aku mau membangun kembali mimpiku. Paling tidak, beri aku sebuah cerita indah dan motivasi. Jika ingin curhat juga saya terima. Pun isi surat saya juga curhatan, ya. hahaaa.. tanpa sadar,

p.s. sekarang saya sudah pakai motor. Kalau ada agenda pameran beasiswa atau apapun itu, ikut yuk :D jangan sungkan ajak aku ya~

regards,
(himaya)
Bulaksumur residence/ 2012 (Dok. Nafisah)

Jumat, 14 Maret 2014

BERLIAN DARI PEREMPUAN BELIAN

Mendayung-2014

Dik,
Aku ingin meminangmu dengan keperkasaan. Rumah-rumah mewah dan mobil mengkilat. Belasan pembantu rumah tangga akan melayani kita. Mereka akan menyuguhkan kita sepotong roti dengan selai cokelat Belgia dan susu murni pada setiap pagi. Malamnya, ketika kau mengantuk dan aku teragak menyentuh payudaramu, aku akan meminta bantuan salah satu dari mereka untuk membuka pengait bramu. Tanganku dan tanganmu sekalipun tidak akan bekerja, kita hanya memakai otak dan menghamburkan uang pada mereka-mereka yang membutuhkan.
Barangkali, jika kau ingin menimang anak, aku juga akan meminta bantuan salah satu dari mereka untuk mengandung dan melahirkan. Aku tidak akan membuat perutmu melebar dengan menyimpan buah hati kita selama sembilan bulan di dalamnya. Aku ingin merawatmu, dari rambut hingga ujung kaki. Aku ingin mengabadikan kecantikan gadismu.
Dik,
Kata orang-orang, kau adalah bidadari surga. Hanya Tuhanlah yang berhak meminangmu. Apakah aku harus menjadi Tuhan dulu agar bisa meluluhkan hatimu yang beku? Aku akan menjadi Tuhan, Dik. Aku akan menciptakan bumi, langit, dan segala isinya. Tapi bumi, langit, dan isinya ciptaanku agak sempit, Dik. Tentu kau tahu mengapa. Aku hanya menciptakannya untuk kita. Aku enggan berbagi bumi, langit, dan segala isinya pada orang-orang. Aku menjadi Tuhan, dan kau adalah istri Tuhan, dan ciptaanku adalah hamba-hamba yang akan memanjakan kita.
Aku akan membuat malam telanjang lebih lama. Ah, jangan pura-pura tidak tahu, Dik. Aku akan membawamu telanjang bersama malam. Aku dan kau akan menyatu, Tuhan, istrinya, dan makhluknya akan bertelanjang.
Dik,
Sudahkah kau bercerita tentang aku kepada Ayahmu? Aku dengar juga, Ayahmu itu berkumis tebal dan keningnya suka berkerut. Benarkah, Dik? Kau tahu, aku punya ketakutan yang agak berlebih kepada lelaki dengan kumis tebal dan kening berkerut, Dik.
Tapi tak mengapa, aku akan merayu ayahmu agar menjualmu kepadaku, Dik. Orang-orang dengan kumis tebal dan kening berkerut itu, jika dihadiahkan segudang emas, ia akan mencukur kumisnya dan meratakan keningnya. Aku tentu tidak takut lagi.
Jatuhlah kepadaku, Dik. Pada setiap akhir pekan, aku berjanji akan membawamu kepada lelaki dengan kumis tebal dan kening berkerut itu. Lalu, jika kau suruh aku membantumu mencuci kakinya dengan air garam, aku akan menurut, Dik. Aku akan ikut menggosok daki pada telapak kaki lelaki dengan kumis tebal dan kening berkerut itu dengan air garam yang agak keruh.
Nanti, ketika dakinya sudah bersih dan ia tertidur dalam kesucian, aku akan mencium bibirmu diam-diam sambil terus menggosok telapak kakinya. Dalam ciumanku, kubisikkan padamu bahwa telapak kaki lelaki dengan kumis tebal dan kening berkerut itu agak kecut. Tentu kau sudah tidak bisa marah kepadaku, Dik. Nanti, jika kau berteriak sedikit saja, lelaki yang telapak kakinya masih kugosok itu akan terbangun. Dan, ia menyuruhku menghentikan ciuman kepadamu.
Dik,
Apakah kau dilahirkan dari pohon-pohon tak beranting? Rautmu meneduhkan. Bibirmu yang merah dengan lekuk sempurna itu membuatku ingin mengecupnya tiba-tiba. Aku ingin memelukmu dari balik pohon tempat kau dilahirkan. Menyandarkanmu pada batangnya yang kokoh, lalu mengangkat kedua tanganmu ke atas. Membiarkanku memelukmu dalam suara gesekan dedaunan pada pohon-pohon lain.
Bagaimana caraku meminta izin kepada pohon-pohon untuk meminangmu? Apakah aku harus menanam seribu pohon untuk melahirkan Dik-dik lain sepertimu. Aku akan. Seribu pohon adalah kecil untuk mengganti dirimu.
Lalu, pohon dengan bentuk akar seperti apakah yang bisa melahirkanmu, Dik? Pada pelajaran ilmu pengetahuan alam, aku hanya belajar dua jenis: tunggang dan serabut. Tapi tidak mungkin kau terlahir dari akar berbentuk salah satu dari mereka. Kuyakin, ada akar jenis lain yang bisa melahirkanmu. Bisikkan, Dik. Akan kubeli seribu pohon dengan bentuk akar seperti yang akan kau bisikkan.
***
Aku tidak pernah bertemu lelaki angkuh yang ingin membeli segala yang ada di langit dan di bumi. Aku hanya seringkali berjumpa lelaki rendah hati dengan peci di kepala dan suaranya yang juga rendah. Tapi aku tidak pernah jatuh cinta pada lelaki seperti itu. Mereka lebih pantas meminang perempuan rendah hati dengan suara rendah pula.
Aku memang perempuan belian. Jikalau kau tidak bawa segudang emas, jangan coba-coba menawarku. Apalagi ayahku, jangan coba-coba mengunjunginya dengan tangan kosong, kau akan diusir sebelum tiba di pintu rumah. Kumis tebalnya akan semakin menebal, dan kerutan keningnya akan semakin sempit. Kau pasti akan pipis di celana menyaksikan rupanya yang menyeramkan.
Dari balik jendela di dalam rumah, aku dan ibuku akan cekikikan menertawakanmu. Sudah kubilang, aku adalah perempuan belian dengan harga tidak murah. Masih saja kau berani datang.
Sekali waktu, aku berhasil dibeli. Kekasihku itu punya bergudang-gudang emas. Ia sanggup menjelma menjadi Tuhan, ia membelikan ibuku seribu pohon, ia juga tak enggan membantuku mencuci kaki ayah. Ia melakukan segalanya untukku.
Aku benar-benar berkuasa atasnya. Budak-budaknya menjadikanku seperti tuan putri terkaya di negeri ini. Suaranya lebih rendah dari semua lelaki dengan suara rendah yang pernah datang kepadaku. Seringkali aku terdiam di kamar ketika budaknya sedang melepaskan pengait braku untuk disentuhnya. Apakah ada sesuatu dalam diriku yang ingin direnggutnya hingga ia melayaniku seperti orang tidak waras begini?
Aku adalah perempuan belian dengan harga sangat mahal. Barangkali, jika ia menukarku dengan sepuluh perempuan belian lain, ia akan lebih bahagia. Ia tidak perlu membeli budak-budak, ia tidak perlu membeli pohon dengan akar melilit berbentuk kemaluan laki-laki, dan ia tidak perlu ikut mencuci kaki ayahku.
Aku hendak bertanya, tapi aku adalah perempuan belian. Aku tidak berhak atas pertanyaan semacam itu. Karena aku perempuan belian, aku harus pura-pura jatuh cinta kepadanya dan mengerang ketika ia mencangkul ladangku. Meski, setelah benihnya tertanam, aku memintanya memindahkan kepada perut budaknya. Dan, bodohnya, ia menurut saja. Karena aku perempuan belian, aku juga tidak boleh menanyakan mengapa ia menurut atas setiap permintaanku.
***
Seorang bayi perempuan telah lahir dari perut budak kami. Aku menamainya Berlian. Kekasihku tampak bahagia sekali. Setiap hari ia menciumi bibir Berlian, ia menimang Berlian. Aku semakin heran, bukankah Berlian adalah benih dari seorang perempuan belian? Mengapa ia begitu tulus pada benih yang keruh itu.
Aku ingin sekali membawa Berlian kabur, meninggalkan kekasihku sendirian dengan kayanya yang tak pernah habis. Tapi setiap aku ingin mengambil sepatu dan membedung Berlian, aku teringat kekasihku. Aku perempuan belian, dan aku sudah dibeli kekasihku. Aku dibeli untuk tersenyum, telanjang, dan membelai kekasihku. Dan, barangkali, sesekali aku dibeli untuk menyusui Berlian anakku.
Sleman, 31 Januari 2014



Rabu, 05 Maret 2014

Dilarang jadi Pecundang



Ayah, pernahkah pada suatu malam kamu kedinginan dan Tuhan memaksamu untuk memimpikanku? Apa yang Tuhan bisikkan dalam mimpimu, Yah? Apakah Tuhan kata aku ini tidak menjaga amanah darimu? Atau, Tuhan menenangkanmu dengan segala hal baik tentang diriku? Ayah, kamu tahu, aku seringkali berbuat tolol di sini. Aku, mempermalukan diri sendiri.
Aku ingin pulang saja, Yah. Bertemu Ayah lalu menghabiskan malam dengan segelas teh telur dan buku-buku kebanggaan Ayah. Tapi kau tidak mendidikku untuk menjadi pecundang, Yah. Katamu, jika ingin menjadi pecundang, lebih baik memilih untuk tidak dilahirkan. Lalu ada seseorang dalam kepalaku yang bukan aku bertanya perihal itu.
“Pecundang itu apa? Apakah bisa dimakan atau dijadikan kekasih?”
Aku hanya mengerti satu definisi tentang pecundang, Yah. Penipu. Sudah, itu saja. Barangkali kisah tentang pecundang yang kau pesankan kepadaku itu agak berbeda, Yah. Ia memecundangi diri sendiri. Ia berbuat tolol kepada dirinya dan mimpi-mimpinya. Hingga menyesal, bahwasannya dalam setiap hari yang dijatahkan Tuhan, ia seharusnya bisa menjadi seorang makhluk bukan pecundang. Kemudian seseorang lainnya lagi yang ada di kepalaku bertutur bahwa aku bukan penipu jika berani melepas apa-apa yang tidak kusanggupi. Aku ingin melepas, Yah. Aku ingin bebas. Aku tidak ingin tertindas.
Ayah, kau benar. Aku akan kuat jika dipatahkan. Aku akan semakin keras jika dilemahkan. Ayah, aku tidak akan mempecundangi diri sendiri.
Ayah, tetaplah di hatiku. Seperti yang selalu kau katakan, “Sejauh apapun kamu, kita masih berada di langit yang sama, Sayang.”
Ayah... lihatlah ke langit, di sana ada aku yang tersenyum kepadamu. Pun, di sana juga ada aku yang ingin sekali memelukmu. Ayah, bangunlah dari mimpimu, putrimu lekas pulang.
Bulaksumur residence/ Dok. Nafisah 2012

Jumat, 28 Februari 2014

Mulai Edan, Dik?

Zaman masih waras (Nafisah-Poppy)/ Dok. Nafisah 2012

#1. Setiap kali mendengar “seseorang” yang berbicara menyebut diri sendiri dengan namanya, aku akan sangat kesal. Misalnya seseorang itu berkata begini kepadaku: “Naf, maaf Ujang nggak bisa ikut rapat ya.” Kamu tahu apa yang ingin kulakukan pada seseorang bernama Ujang itu? Aku ingin melemparnya dengan dompetku. Meski pada praktiknya, aku akan diam saja dengan raut tololku. Sudah berkali-kali kukatakan, aku membenci tuturan kekanak-kanakan serupa itu. Gunakanlah kata ganti yang cocok. Gunakanlah!

#2. Aku heran, heran sekali dengan sikap orang yang begini. Simak ceritanya!
Upik adalah seorang penari. Ia baru saja bergabung dengan tim tari di kampusnya. Upik diajar oleh senior-senior yang baik hati di tim itu. Upik selalu patuh, bertutur lemah lembut, dan menerima dengan lapang dada semua kritikan yang diberikan senior-seniornya. Hingga pada suatu hari, ada seleksi untuk mengikuti perlombaan tari di Baghdad. Tidak disangka, Upik adalah salah satu peserta terpilih. Hal ini membuat Upik mulai berani unjuk gigi. Ia melakukan segala cara agar bisa mewujudkan mimpinya itu, berkunjung ke negeri Baghdad. Upik mulai kehilangan kontrol atas dirinya, ia seringkali (setidaknya menurut saya) mempermalukan dirinya sendiri.
Pada suatu hari Upik tidak bisa ikut latihan. Bisul di pantatnya pecah. Ia tidak bisa genjot maksimal dalam setiap gerakan. Akhirnya, ia memutuskan untuk istirahat selama beberapa abad. Dalam istirahatnya, ternyata teman-teman Upik sedang mengikuti perlombaan lain, sebut saja di negeri Pra Baghdad. Mereka berlaga tanpa Upik. Upik hanya menyaksikan penampilan teman-temannya itu melalui video rekaman, lalu Upik menghujat. Ia mengatakan penampilan teman-temannya itu aneh, buruk, dan memalukan. Upik mengumpat dengan bertele-tele. Lalu, seorang senior meminta pendapat dan masukan dari Upik agar tim mereka bisa memperbaiki kesalahan. Lalu, dengan wajah “sok” polos dan tanpa berdosa Upik menjawab “Eh, nganu. Aku nggak ngerti kenapa hancur gitu. Eh aku lupa bagian mana. Eh mungkin aku salah liat.”
What the !@#$%^&*!!!

Ceritaku terlalu panjang dan tidak bisa dimengerti? Maaf, mungkin aku mulai gila. 

#3. Dulu, aku adalah seorang pembunuh. Aku tidak segan membantai siapapun dalam situasi apapun. Aku kejam rupanya. Hingga beberapa waktu yang lalu, aku disentil oleh ucapan seseorang yang seharusnya kukagumi. Ia pantas dijadikan teladan dan imam (*eh). Kepada seseorang yang sudah menegurku tentang pembunuhan ini, kuucapkan terima kasih. Aku berjanji kepada diri sendiri, aku tidak akan membunuh siapapun lagi. Kamu benar, pembunuh tidak mutlak menjadi pemenang.

#4. Mungkin aku mulai gila. Apa aku harus mengeluarkan semua yang tersendat agar tidak benar-benar gila? Eek misalnya.


Senin, 24 Februari 2014

Akhirnya #KampusFiksi

Alhamdulillah lulus. Semoga lancar dan bermanfaat :)


Sabtu, 22 Februari 2014

Pesan Menjelang Tidur



“Sayang, orang-orang tidak perlu tahu bahwa aku mencintaimu dan kamu juga tidak mau kalah. Bahwasannya, pada setiap pagi ada kopi beraroma pekat di meja kerjamu, dan ada kecupan basah yang membekas di keningku setelah terjaga.”

“Sayang, orang-orang tidak perlu tahu bahwa pada setiap malam tubuhmu meriang, dan kau selalu memintaku memelukmu. Hingga lamat-lamat kau tertidur dalam pelukanku, dan dengkuranmu yang sejujurnya agak menjijikkan itu turut menghiasi malamku.”

“Sayang, aku tidak mengerti bagaimana orang-orang selalu memamerkan kisah mereka dalam potret palsu. Mereka, seolah-olah sedang riang gembira. Padahal, beberapa jam setelah membuat potret itu, mereka tidak saling sapa. Andai aku dan kau ingin menjadi penguasa kisah asmara, kita akan mengajarkan kepada orang-orang bagaimana cara bercinta yang benar. Tapi tidak, kasih kita lebih erat dalam kesederhanaan. Tanpa pujian orang-orang, tanpa kekaguman dari siapa pun jua.”

“Sayang, aku agak takut setiap kali kau memanggilku dengan sapaan bidadari surga. Kau tahu bidadari itu seperti apa wujudnya? Kau tahu bidadari itu bagaimana tuturnya? Mengerikan, Sayang. Jangan panggil aku dengan kalimat itu lagi, panggilan itu membuatku terjaga sepanjang malam.”

“Sayang, aku ngantuk. Selamat tidur, jangan lupa tersenyum dan memelukku.”



Sabtu, 08 Februari 2014

Susahnya Menangis



SUDAH LAMA SAYA TIDAK MENANGIS. MUNGKIN TERAKHIR KALI WAKTU SAYA SUSAH EEK MERASAKAN SAKITNYA CABUT GIGI SELAMA DUA JAM. Oh, mungkin menangis perkara fisik tidak pantas dimasukkan ke dalam hitungan. Kapan, ya terakhir kali saya menangis? Ah, saya sudah tidak ingat. Hati saya agak bebal akhir-akhir ini, susah tersentuh, susah merasa. Mungkin terlalu sering disakiti nonton komedi.

Malam ini, saya ingin sekali menangis. Dada sesak, pikiran mumet, dan tetap saja... saya tidak bisa. Sesak di dada hanya sampai ke kepala, mata saya ternyata tidak ingin bekerjasama untuk menyalurkan kesedihan ini. Mungkin, setelah ini saya harus bikin cerpen berjudul “Perempuan tanpa Air Mata”. Hahaha, ga lucu ya.

Malam ini, saya ingin sekali menangis. Delapan hari lagi, saya harus membayarkan uang sebesar 900ribu untuk suatu keperluan. Bukan, Ayah saya bukan pengangguran yang tidak bisa menafkahi putrinya. Ini adalah persoalan saya dengan diri sendiri, kuliah ditanggung orang tua, makan ini itu dan lain sebagainya juga, haruskah jalan menuju impian-impian besar saya juga orang tua yang menyuapinya? Tentu tidak! Sekali lagi tidak. Kamu, adalah gadis 18 tahun yang sudah disekolahkan ibu bapakmu belasan tahun lamanya. Tak adakah seuprit sedikit pun ilmumu yang bisa kau gunakan untuk mengumpulkan kertas keluaran bank yang disebut orang-orang dengan uang itu? Ada. Ada! Saya bisa menulis, saya bisa menghidupkan kembali bisnis online saya, saya bisa berhemat setidaknya. Barangkali dulu saya menulis dengan alasan munafik “menghidupkan dunia kesusastraan Indonesia”, sekarang saya akan ganti judul. Saya menulis untuk cari duit! Saya akan menulis genre apa pun, meski dicap alay bin lebay (apasih) sekalipun. Hidup itu pilihan, dan saya berjuang pada keputusan-keputusan yang terkadang menyedihkan. Jika kau, atau siapapun hendak menghujat, datanglah. Sampaikan dengan baik, dan saya akan menerima dengan senang hati.

Malam ini, saya ingin sekali menangis. Malangnya, tentang duit lagi. Untuk pertama kalinya, saya berada di kepanitiaan yang membutuhkan dana sekitar 790juta. Dan sialnya, saya memilih menjadi tim sponsorship—tempat di mana uang itu menjadi tanggungjawab saya. Ke mana saya harus ngemis minta duit segepok gitu? Kalau saja prostitusi itu halal, saya akan jual gadis-gadis tim ke om-om kaya di negeri ini (hahaha *otaksetan*). Tunggu, tunggu. Saya tidak sendiri kok. Ada Lathif (koor kami yang baik hati dan sabar), Nuna (putri Kebumen yang ngomongnya kaya Power Ranger), Lana (yang sampai detik ini belum bisa melafadzkan huruf “R”), dan Anang (yang sering sakit (?). Teman-teman, kuatkan aku, kukuatkan kalian. Kita, adalah pejuang 790juta! Yey! #fyi Besok saya mau nodong pejabat-pejabat via telepon. Doakan, Ya!

Malam ini, saya ingin sekali menangis. Saya menyesal atas waktu selama belasan tahun ini yang saya gunakan untuk hal-hal tolol. Menyedihkan! Kesibukan-kesibukan akhir ini membuat saya tersadar, ada hal besar yang menanti di masa depan. Ada kesempatan berharga yang bisa saya raih dalam kehidupan. Ada yang lebih penting daripada mengurusi kisah percintaan menye-menye ala remaja seumuran. Ada jatah hidup yang diberikan Tuhan, malang sekali jika tidak saya gunakan untuk membahagiakan orang tua dan orang lain. Sebelum diberikan kematian, semoga impian-impian saya sudah terpenuhi, atau setidaknya, gerbang menuju impian-impian itu pernah saya lintasi. Saya menyesal, tapi untuk malam ini saja. Besok, saya akan bergerak! Seribu langkah lebih kencang dari perjalanan yang sudah-sudah. Tuhan, ridhoi setiap langkahku dalam kehidupan, karena pada akhirnya... aku jua akan menuju-Mu.

 
Dok. Nafisah/ Pendopo Ambarukmo Februari '14