S
elamat membaca cerita perjalanan selama 18 hari di negeri orang.
---part 1----
Penembakan pria muslim
H-2
sebelum keberangkatan, kami sharing dengan Mba Cendy (Dosen Sastra Perancis UGM kalau tidak salah), pada kesempatan itu, ia membahas sekilas mengenai museum di Belgia yang pada setiap tahun mengadakan acara besar. Ternyata, 2 minggu sebelum kedatangan kami di Belgia, di museum yang diceritakan Mba Cendy itu terjadi penembakan oleh seorang pria muslim, total korbannya adalah 5 orang dengan 2 diantaranya merupakan wanita Perancis. Kejadian itu menyebabkan kedatangan kami, yang notabene adalah muslim menjadi pro-kontra. Benar saja, pada penampilan pertama di Brussel di hadapan ratusan hadirin yang merupakan anak-anak setingkat sekolah dasar, ada penonton yang protes kepada panitia atas kedatangan kami, mengapa membiarkan muslim ikut berpartisipasi dalam acara ini. Cerita ini disampaikan oleh Papa Franko setelah hari ke-4 kami berada di Belgia, pada awal kedatangan, tepatnya ketika opening ceremony, semua peserta yang terdiri dari 9 negara (Brasil, Belgia, Mexico,
Ukraina, Russia, Slovakia, South Africa, Mongolia ) menggunakan kostum yang semarak, warna-warni, dan meriah, sedangkan kami, dengan penuh percaya diri, menggunakan kaos hitam bertuliskan enjoy Jakarta di dadanya
(pemberian sponsor), dan jarit batik dominan berwarna gelap (pemberian sponsor juga),
bayangkan betapa suram dan kucelnya penampilan kami waktu itu. Hahaha! Jadi enggak salah jika pada awal kedatangan kami dipandang sebelah mata, kata Papa Franko juga, setelah menyaksikan keramah-tamahan orang Indonesia, tariannya, dan segala budayanya selama beberapa hari di sana, mereka jadi sangat mencintai Indonesia, bahkan seorang panitia menjuluki Indonesia sebagai malaikat kecil dalam fesival tersebut.
|
Opening Ceremnony Festival Mondial De Folklore-De Saint Ghislain, Belgium/ Foto: Yulian Prasetya |
|
Foto bersama kontingen Mexico/ Saint Ghislain, Belgium |
Kami juga bertemu dengan 3 orang nenek lincah (Nicolle, dua lagi saya lupa namanya), mereka memberi beberapa hadiah dan sepucuk surat sebelum tim bertolak ke Perancis, neli-neli ini juga minta diajarkan tari ratoeh, mereka juga memberi rambut naga yang menurut cerita mereka siapa pun yang mendapatkan rambut naga itu akan memperoleh keberuntungan dalam hidupnya, dan dengan pemberian itu, mereka berharap tim Indonesia khususnya rampoe UGM memiliki keberuntungan-keberuntungan pada tahun mendatang. Terima kasih atas kebaikan-kebaikan dan doanya wahai 3 neli.
|
Neli-neli lagi belajar Ratoeh/ Saint Ghislain, Belgium |
Jangan ribut pada
jam tidur
Maaf ya ceritanya lompat-lompat, soalnya saya ga nyatet
jadi seingatnya. Haha!
Jadi selama di Roche La Molliere, France, saya dan Nuna
tinggal di rumah keluarga Faurend. Ayah kami bernama Marc Faurend, ibunya Odille, dan satu kakak laki-laki unyu bernama Koch
Quentim, dalam bahasa Perancis nyebutnya susah banget, hingga pulang, saya
hanya bisa melafaskan nama pendeknya: Kosh.
|
Selepas menghadiri acara ulang tahun Victoria (anaknya temen Maman)-Papa-Nuna-Koch-Nafisah-Maman/ St. Etienne, Franch, 2014 |
Jadi, di keluarga ini kita dimanja gitu, dicuciin baju,
kalau makan diambilin si kakak ganteng, terus ke tempat festivalnya
dianter-jemput (ya-iyalah masa jalan), pokoknya si keluarga ini baik banget
deh, mungkin karena engga punya anak perempuan kali ya, jadi sekalinya dapet
dua anak perempuan dari negeri antah berantah dimanja banget. Alhamdulillah
punya keluarga baru.
Inti ceritanya nih, jadi malam kedua kami di sana, aku
dan Nuna pada belum ngantuk, jadi kami ngobrol di kamarku sampe tengah malam,
terus tiba-tiba si maman (baca: mamong/ mama) naik ke lantai dua dan ngintip
dari balik pintu sambil senyum, terus kita bingung, setelah maman pergi, kita
bersepakat bahwa senyuman tadi artinya: Ribut aje lu pade, tidur sono! Hahaha,
lalu kita melanjutkan cerita dengan bisik-bisik kaya lagi di dalam goa terus
lagi diintai banteng di mulut goa. Apadeh.
Oya, balik lagi nih. Waktu awal dibawa oleh host-family
dari tempat festival ke rumahnya, aku berasa lagi di dunia lain. Kangen dasam,
mama, rumah. Terus, aku sama Nuna hening di bangku belakang. Kami kayak anak
lagi diculik orang asing. Tapi waktu udah sampai rumah, langsung disambut sama
si Maman, dicipoka-cipokiin, terus digiring ke meja makan, kita dimasakin
sejenis ayam gulai hambar gitu sama pizza buah, dengan makanan penutup puding
caramel yang maknyus. Dan, kita tidur dengan bahagia setelah diberikan kamar
masing-masing yang super nyaman. Selamat malam dari kota St. Etienne!
|
Kita lagi selfie, tapi kameranya ke-zoom, mukanya Koch jadi aneh gitu. Hahaha. Je t'aime, Meisure!/ St. Etienne, Franch |
|
Habis nampil dapet cium dari Maman-Nuna-Maman-Nafisah/ Roche La Molliere, Franch |
|
Habis joget-joget ria keliling panggung-Nuna-Papa-Nafisah/ Roche La Molliere, Franch |
|
Senyumnya Koch agak gimana gitu. Hahaha/ St. Etienne, Franch |
Berpetualang ke
Namur
Festival usai, penat sudah sampai pada titik puncak. Dari
Perancis, kami kembali ke Wepion, Belgia untuk istirahat sebelum lusa terbang
menuju Indonesia dari Schipol, Amsterdam. Setelah sampai di Wepion, pikiran
saya memerintah agar tidak duduk leha-leha di tempat penginapan, harus keluar,
cari udara segar, dan satu destinasi yang sangat ingin saya kunjungi waktu itu
adalah Paris. Untuk menuju Paris, saya hanya butuh waktu 4 jam lagi. Saya dan
beberapa anak lainnya searching info transportasi menuju Paris, ternyata
harganya agak tidak manusiawi, sehingga dengan terpaksa kami mengurungkan niat
untuk berfoto dengan latar menara eiffel, tempat yang konon sangat romantis
kata orang-orang.
Sebelum jam makan siang, kami bergerak dari Wepion menuju
Namur. Teman saya bilang hanya 5 km, tapi setelah berjalan 45 menit, kami belum
sampai di pinggir kotanya, masih di perkampungan Wepion yang dikelilingi ladang
gandum yang tumbuh subur. Akhirnya, kami memutuskan untuk mencari tumpangan.
Setiap mobil yang lewat kami stop, mereka terlihat takut, cuek, dan ekspresi
menyebalkan lainnya. Harapan untuk mengunjungi Namur nyaris pupus, kami hanya
terus berjalan ke arah kota sambil sesekali melihat ke belakang untuk menyetop
pengendara mobil yang barangkali baik hatinya. Setelah berjalan sekitar 30
menit lagi, kami menyetop mobil pengantar barang, dengan bahasa prancis
pas-pasan, akhirnya si pengendara mobil bersedia menumpangi kami. Nuna dan
Toples duduk di bangku depan, sedangkan saya, Ucup, dan Bang Abe duduk di
belakang, gelap, penuh barang-barang pesanan, dan membikin pusing. Lalu kami mengabadikan
momen di sana, dan kami terlihat seperti anak yang sedang diculik.
|
Ladang gandum yang kami temui selama berjalan-Qordha-Nafisah-Nuna/ Wepion, Belgium |
|
|
Gelap-gelapan di mobil pengantar barang-Qordha-Nafisah-Abe/ Perjalanan menuju Namur, Belgium |
Setelah beberapa lama perjalanan, kami diturunkan di
Namur! Alhamdulillah... melihat Namur dengan perjuangan yang agak alay rasanya sedikit
berbeda, lebih berkesan, lebih mengena. Oya, nama pengemudinya Mustofa, dia
muslim asal Marokko kalau tidak salah ingat.
Di Namur, kami membikin video untuk sponsor, foto-foto
unyu, dan jalan-jalan di tengah kota. Tiba waktu makan siang, kami cekcok untuk
menentukan tempat makan yang pas. Akhirnya kami berhenti di salah satu restoran
di tengah kota, dan ternyata si penjaga (dan pemilik) restoran juga muslim, ia
menunjukkan label halal di burgernya, kami makan dengan lahap, saya memesan
french fries burger dan ketchup sedangkan 4 bocah lainnya french fries burger +
samurai, mungkin makannya pakai pedang. Haha. Apadeh. Setelah makan, kita
berfoto bersama dan melanjutkan perjalanan pulang.
|
Pria baik hati yang numpangin kami-Mustofa/ Namur, Belgium |
|
|
Ungkapan syukur ketika menginjakkan kaki di Namur |
|
|
Santap siang di tengah kota-Nafisah-Nuna-Qordha-Toples-Abe/ Namur, Belgium |
|
Indahnya kota Namur dari atas bukit-Qordha-Nafisah/ Namur, Belgium |
|
|
Bertemu saudara seiman (lagi) di tempat makan/ Namur, Belgium |
Sama halnya dengan perjalanan pergi, kami
juga sangat sulit mencari tumpangan untuk pulang. Setelah beberapa lama jalan
ke arah penginapan, akhirnya ada seorang laki-laki yang mau ditebengin, tapi
sayang mobilnya sangat mini, jadilah kita duduk berlima kayak sarden keseleo di
dalam mobil itu, dan sayangnya lagi kami enggak dianter sampai rumah, dan
dengan semangat yang masih membara kami nyetop mobil lagi hingga ketemu
mbak-mbak cantik yang mau nonton bola, mbak ini baik banget, kami dianter
sampai penginapan, terus Toples ngasih jaketnya sebagai ucapan terima kasih,
semoga rezekimu dilancarkan, Mbak!
|
Mbak Cantik-Nuna-Qordha/ Wepion, Belgium |
----bersambung
Epik... Aku nunggu ceritamu lain lagi... :D
BalasHapus