Kamis, 22 Mei 2014

Pelepasan LE; Kisah Cinta yang Berangkat dan yang Memberangkatkan

Tenang saja, ini bukan tulisan pencitraan untuk media massa. Hehe. Selamat membaca!
22 Mei 2014, tidak terasa sudah 8 bulan kami berproses dalam satu misi: Langit Eropa! Atau.. dalam bahasa kerennya Diplomasi Budaya melalui Duta Seni Mahasiswa. Barangkali, jika sudah membaca postinganku beberapa bulan yang lalu, sudah tahu apa itu LE, sudah tahu bagaimana lika-liku LE. Jika belum, akan saya sampaikan kembali, secara ringkas, seingatnya, seadanya.
LE merupakan sebuah kepanitiaan yang dibentuk oleh Rampoe UGM, komunitas tari yang berada di bawah Departemen Minat dan Bakat Jurusan Sastra Asia Barat FIB UGM. Kepanitiaan ini (lebih tepatnya disebut keluarga) mengusung satu misi seperti yang saya sebutkan di atas DBMDSM. Apa latar belakang dan dimunculkannya misi ‘berat’ itu? Sependek yang saya tahu, Rampoe UGM mendapatkan undangan untuk mengikuti Festival Mondial de Folklore De La Ville De Saint—Ghistlan (Belgia) dan Festiroche—Roche La Moliere (Prancis), sehingga dibutuhkan 25 orang untuk diberangkatkan ke kedua festival tersebut. Siapa yang memberangkatkan? Tim!
Setelah kepanitiaan terbentuk, dimulailah peperangan oleh setiap prajurit. Tenang saja, antarprajurit tidak saling perang, kita memerangi musuh. Siapa musuh kita! Uang senilai kurang lebih 400 juta, beberapa paket tarian untuk ditampilkan nonstop selama 15 hari, dan musuh-musuh kecil lainnya. Musuh-musuh ini diberitahukan setelah fiksasi panitia dilakukan, jadi, mau tidak mau, saya yang memilih bergabung dalam divisi sponsorship harus tersenyum masam dengan nominal yang dibutuhkan. Mengerikan! Di dalam divisi sponsorship, pada awalnya ada 5 orang, tetapi dalam perjalanannya satu orang anggota kami dialihkan ke divisi perkap, sehingga tersisalah Sirajuddin Lathif (Sastra Asia Barat 2012) sebagai koordinator, Lana Nurani Nan Suci (Matematika 2012), Nun Afra Farhanggi (Sosiologi 2012), dan saya sendiri (Sastra Indonesia 2012). Bayangkan, apa yang terjadi saat rapat khusus divisi? Keempat bocah yang seumuran ini, dengan isi kepala yang berbeda-beda dan keras hati yang hampir sama, harus menjalankan tugas yang bagi saya pribadi boleh dikatakan berat. Tidak jarang kita bentrok, ngambekan, marahan, main sinis-sinisan, diam-diaman, dan segala macam perangai bocah lainnya, tapi ketika sadar tugas belum selesai dan ada hal yang harus segera dituntaskan, semua ketololan-ketololan tadi akan sirna (sementara), lalu akan dilanjutkan di pertemuan-pertemuan berikutnya. Hehe. Tapi dari divisi ini, saya belajar bagaimana menghormati atasan, menerima dan menolak pendapat dengan etika yang benar, menyaksikan bagaimana tidak enaknya dibunuh dan dihujat di forum, menerima dan memberikan perhatian kepada orang-orang yang sudah seperti saudara sendiri, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Saya menemukan kecintaan terhadap kepanitiaan ini, kepanitiaan yang dibangun dengan rasa cinta kasih. Alay? Coba saja masuk, nikmati dan rasakan.
Singkat cerita, kami melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang. Dan, alhamdulillah, Tuhan memberikan kemudahan. (Semoga tidak salah saya menyebutkan nominal di sini, hanya berbagi pengalaman) dari DIKTI, kami mendapatkan bantuan dana sebesar 20 juta, Kemendikbud 100 juta, UGM 14 juta (kalau tidak salah), FIB 10 juta (untuk 2 kepanitiaan, LE dan FESCO), BNI 5 juta, Spesial Sambal 500 ribu, Bea Cukai 2 juta, Prof Suhardi 500 ribu, staedler 1,5 juta, KAGAMA 1 juta, potongan harga sekian persen dari Garuda Indonesia, seperangkat alat make up dari Wardah, jaket tim, tas rapai, dan tas ransel anggota dari Rumah Warna, kaos tim dari Jogist, tas selempang anggota, topi anggota, kaos anggota, USB anggota, dan pernak-pernik lainnya dari Dinas Kebudayaan Jakarta, kemudian untuk media partner kita menggaet Radio Kedaulatan Rakyat, Koran Kedaulatan Rakyat, dan SKM UGM Bulaksumur. Dan, singkat cerita lagi, alhamdulillah kita dapat melunasi kebutuhan keberangkatan khususnya tiket dengan bantuan pihak-pihak lainnya. Terima kasih, terima kasih sekali untuk yang rela berkorban demi keberangkatan ini.
Sekarang, sesinya saya mengucapkan terima kasih secara personal kepada orang-orang spesial ini.
 
Ayah & Mama: Untuk segala cinta dan dukungannya. *pelukcium*


 
 
Nuna: Terima kasih sudah sangat sabar atas ketidakpekaanku



Inong LE: Terima kasih atas kekompakan dan kemesraannya :*


Rabu, 07 Mei 2014

LE- 1



Cerita ini akan sangat panjang, dan, barangkali tidak berkesudahan. Selamat membaca, iyakan semua tuturanku, atau pergilah.

Aku tidak memulai kisah ini dari awal, aku terlambat menyadari, bahwasanya cerita ini teramat berharga untuk kulupakan begitu saja. Sekali lagi, dengarlah suguhan seadanya ini. Maaf, muqodimah lagi.

Setahun ini, semua benda di kepalaku tunduk pada satu destinasi: Eropa. Aku dengan sengaja menghilang di kelas perkuliahan, di rapat-rapat rutin organisasi dan kepanitiaan, karena aku bangsat dan tidak bertanggung jawab, lagi-lagi, yang ada di kepalaku adalah Eropa. Barangkali, jika aku adalah anak jenius dengan kemampuan bahasa Inggris memadai, maka untuk menuju Eropa, aku tidak perlu sehina ini, mengemis minta uang ke setiap lini perusahaan. Tapi tak mengapa, duduk di bawah langit Eropa akan hambar tanpa perjuangan. Sebelum kalian bosan, aku akan berhenti bernarasi tentang perjuangan-perjuangan, percayalah, perjuangan-perjuanganku hanyalah bualan, untuk melengkapi bualan-bualan lainnya tentang perjuangan pembual-pembual seprofesi. Aku hanya si bangsat yang pura-pura berjuang dan tersiksa.

Bagaimana jika kita beralih tentang tumbuhnya perasaan-perasaan dalam setiap perjumpaan. Dari dulu, dulu sekali, aku akan sangat takut menghadapi hari-hari seperti ini, aku akan takut bertemu dengan orang itu dan itu lagi, setiap hari, dalam jangka waktu yang lama, dengan intensitas pertemuan yang memakan lebih dari setengah jatah hariku. Aku takut, jika aku terbiasa, terbudaya, tergantung, atau apalah untuk bertemu dengan orang-orang itu. Aku takut ditinggalkan. Aku takut dipisahkan. Memang, ini berlebihan, tapi tidak bagiku. Aku akan sangat merindukan, sejadi-jadinya rindu. Setiap momen pertengkaran, kesalahpahaman, kemesraan, ketegangan, kericuhan, kekesalan, dan semangat-semangat yang kamu dan kalian tularkan. Aku belum kuat jika dalam beberapa bulan lagi, kita akan berhenti melakukan rutinitas-rutinitas ini. Pekerjaan yang kian hari menjadi pengisi hariku paling setia. Aku takut jika pertemuan-pertemuan kita pada masa selanjutnya menjadi hambar, tanpa tekanan dari siapa pun jua, tanpa masalah, dan tanpa kasih sayang. Jika benar, aku lebih memilih untuk meninggalkan, karena sekali lagi, aku takut ditinggalkan.
Perjuangan kita belum berakhir, di dalam kepala setiap kita, masih ada kebusukan-kebusukan yang pada waktunya nanti harus kita lepaskan, kita tuntaskan. Jika kau, atau kalian menderita dengan kebusukan-kebusukan serupa ini, bersabarlah, terkadang perlu menjadi jahat untuk mempercepat pertemuan dengan hal baik, begitu. Aku tidak bisa mengungkapkan bagaimana sedih dan kesalnya aku melihat semua beban bertumpu di pundakmu, dan kau, dengan gayamu yang menyebalkan seakan bisa memikul segalanya. Jika kamu sedikit menurunkan gengsi dan pongahmu, akan banyak pundak-pundak lain yang akan berbagi denganmu, percayalah. Tapi tak apa, kuacungkan kedua jempolku untukmu, untuk segala usaha, kekerasan hati, dan perjuangan-perjuanganmu yang teramat berharga di dalam kepalaku, dan untuk segala kemurah-hatianmu kepada sesama makhluk Tuhan.

Ini baru bagian pembuka, akan kuselesaikan pada 22 Juni nanti. Semoga masih bisa bertemu dalam fananya kehidupan kota Jogja.

Rabu, 09 April 2014

DICULIK DEWA PEREMPUAN



RIMBA kian suram. Berisik daun-daun mulai mengerikan. Aroma masakan kentang semakin pekat menusuk hidung. “Lekas temukan jalan keluar, Sayang.” Seorang perempuan berkata kepada kekasihnya. Lututnya gemetar, dari leher di balik kerudungnya, keringat mengalir deras. Ia ketakutan.
Kekasih diam saja, ia putus asa. Sedari tadi, sejak azan asar berkumandang dari kejauhan, mereka sudah tujuh belas kali berputar di tempat yang sama. Di jalanan yang sama. Dan, langit mulai gelap. Tak ada yang bisa didengarkan selain bunyi-bunyi mengerikan khas penghuni rimba. Dan, aroma masakan kentang semakin menguat. Mereka berpagutan.
Menjelang tengah malam, mereka tertidur dengan alas dua tas ransel besar. Tidak ada gairah pada keduanya. Mereka tertidur dalam kelelahan, lelah yang menyedihkan. Kekasih bermimpi, bukan mimpi basah. Ia didatangi seorang Dewa Perempuan. Parasnya cantik, rambutnya bergelombang menutupi buah dadanya yang sintal. Sekali lagi, Kekasih tidak mimpi basah. Keringatnya semakin deras dalam ketakutan.
Kekasih mengangkat kakinya perlahan, menjauh dari Dewa Perempuan. Kakinya berat, sangat berat. Dewa perempuan itu masih saja tersenyum. Senyumnya mengerikan, senyum yang membunuh. Kekasih berusaha sekuat tenaga mengambil jarak, dan ia lupa, tadi, sebelum Dewa Perempuan datang, ia sedang bermesraan dengan perempuannya. Dan, ia sudah kabur, tapi perempuannya tak ikut. Kekasih menghentakkan kakinya, “Sial! Perempuanku tertinggal bersama Dewa Perempuan.”
Kekasih ingin kembali, menjemput perempuannya. Dari dalam rimba yang sangat kelam, ia mendengar jeritan perempuannya. “Kasih, kasih! Di mana engkau? Jemput aku. Dewa Perempuan mulai memakan tubuhku. Kelingking kakiku sudah lenyap separuhnya, Kasih. Kasih, di mana engkau? Kasih!” tuturan yang mengerikan. Perempuannya berteriak dengan nada penuh kesakitan. Kekasih benar tidak sampai hati, ia ingin menjemput. Ingin sekali. Tapi, di depannya sudah ada pintu rimba, pintu menuju jalan ke luar. Pintu yang mengantarkkannya pada keluarganya. Ibunya yang menenun sarung, dan ayahnya yang mencangkul sawah.
Kekasih berdoa, ia memohon dijalankan pada keputusan baik.
Kekasih membantu Ayah mencangkul. Pada malamnya, ia melipat kain-kain tenunan Ibu. Kekasih baru akan tidur setelah orang rumah tertidur. Ia akan terus bekerja selagi masih ada yang terjaga. Kekasih menjadi tidak pernah lelah. Energinya tidak habis-habis, semua yang berat-berat, ia angkat. Semua yang sulit-sulit, ia pecahkan. Kekasih menjadi omong-omongan di kampung, pemudi-pemudi di sana mulai mencari cara menarik hatinya.
Kekasih tidak tahu, bahwa di dalam rimba, masih tertinggal perempuannya yang sekarang hanya tinggal kepala. Lehernya ke bawah sudah dinikmati Dewa Perempuan. Dan, Kekasih juga tidak tahu, bahwa hidupnya menjadi luar biasa setelah menumbal perempuannya pada Dewa Perempuan itu. Kekasih menjadi tidak tahu apa-apa. Ia hanya berjalan, bekerja, dan bertemu dengan orang-orang yang tidak pernah dikenalnya sebelumnya. Kekasih menjadi lugu.
Sekarang pada setiap pagi pemudi-pemudi desa bersolek di kaca riasnya. Malam harinya mereka memasak gulai kambing, dan pada siangnya mereka berkunjung ke rumah Kekasih. Mereka tidak pernah mendapati Kekasih sedang ada di rumah.
Pemudi-pemudi desa mengubah jadwal bertamunya. Pada pagi hari mereka memasak, siangnya bersolek, dan malamnya berkunjung ke rumah Kekasih. Dan, mereka menemui Kekasih dan keluarganya sudah tertidur. Mereka tidur di ruang depan dengan pintu terbuka. Tidur mereka, membentuk formasi segitiga berantakan, begitu setiap malamnya.
Dan, untuk terakhir kalinya, pemudi mencoba mengganti jadwalnya kembali. Pada siang hari mereka memasak, malamnya bersolek, dan pagi hari mereka bertamu ke rumah Kekasih.
Mereka berhasil! Ibu Kekasih sedang menenun sarung, dan Kekasih sedang melipat-lipat kain. Tapi mereka tidak menemukan Kekasih seperti yang dikatakan orang-orang kampung. Tidak ada lelaki dengan lesung pipit dalam dan senyum menawan di sana. Di samping Ibu yang sedang melipat-lipat kain, hanya ada lelaki berbulu lebat, tingginya tak sampai 100 meter. Tatapan matanya kosong, ia melipat sambil sesekali menggaruk dada dan betisnya yang berbulu lebat itu.
Pemudi-pemudi ingin lari, mereka merinding.
***
Rimba sudah kosong, tidak ada jeritan perempuan yang minta dijemput. Aroma masakan kentang goreng sudah tidak tercium. Orang-orang sudah berani datang ke rimba lagi. Mereka mencari kayu, mencari tanaman, dan apa saja yang bisa memberi kehidupan.
Menyedihkan! Mereka tidak menemukan pemberi kehidupan di rimba. Sama seperti alur pada kunjungan ke rimba sebelumnya, mereka tertidur kemudian bermimpi bertemu Dewa Perempuan. Bagi mereka yang memilih jalan pulang, sampailah mereka di rumahnya masing-masing. Dengan ayah, ibu, dan sanak saudaranya. Meski, sepulang dari rimba mereka juga mengerdil dan berbulu lebat.
Kampung kembali rusuh. Kali ini, seorang janda berparas oriental menangis histeris di depan balai. Ia memukul-mukul teras balai dengan kepalan tinjunya. Telapak tangannya menjadi lebam.
Orang-orang beramai-ramai mengerumuninya, mereka membentuk lingkaran dengan Si Janda berada di porosnya. Mereka saling berbisik, saling berprasangka. Dari mulut Janda, terdengar umpatan-umpatan yang tidak jelas, samar sekali. Janda masih saja memukul-mukul teras balai dengan tangannya yang sekarang mulai berdarah.
Dari balik kerumunan orang-orang yang bergunjing, keluarlah Kekasih dengan pakaian hitam menutupi sekujur tubuhnya yang berbulu lebat. Ia bersujud di kaki Janda. Orang-orang terperangah, semesta semakin gila, mereka mengurut-ngurut dada.
Janda menatap lekat-lekat pada mata Kekasih. Ia menemukan sepasang mata balam dengan sinar yang hilang. Ia mendekat, lebih dekat, dan lekat. “Tak salah lagi! Di mana putriku, He?” Janda berteriak keras sekali. Suaranya menggema ke seisi balai. Lingkaran melebar, orang-orang agak menjauh. Takut jika tiba-tiba Janda mengamuk dan menerkam mereka.
“Ampun, Janda. Putrimu tertinggal di rimba. Ia dimakan Dewa Perempuan.” Kekasih semakin kuat sujudnya, ia mencium kaki Janda.
Janda kembali menangis. Darah di tangannya semakin deras. Orang-orang bubar, mereka buru-buru ke dukun, meminta petunjuk atas kejadian yang menimpa kampungnya.
Di balai, Kekasih mematung dalam sujudnya kepada Janda.
Menjadi dukun di kampung tidak gampang, kau setidaknya harus hapal ayat-ayat di kitab. Karena, selera orang-orang kampung ini lain, mereka mendudukkan dukun sebagai tukang baca ayat-ayat.
Setelah menghafal ayat, kau akan dijadikan Tuhan ke dua oleh mereka. Percayalah, selepas itu, uang tidak akan berhenti mengalir kepadamu.
Dukun membaca ayat-ayat, lalu bernarasi dengan nada seperti orang dicekik.
“Ah, tidak. Tidak! Ada sepasang kekasih bermesraan di rimba. Mereka berpagutan, bericuman, lalu menjadi satu. Mereka tidak tahu, di rimba itu, ada sepasang mata dewa yang cemburu. Dewa Perempuan! Ya, ya!”
Kalian tahu? Dewa Perempuan itu mulai rusuh. Disuruhnya daun-daun di rimba bergesekan menimbulkan suara gaduh. Lalu, pelan-pelan, ia mengirim doa jahat kepada sepasang kekasih. Mereka tertidur. Dan, Dewa Perempuan membawa lari satu di antara mereka.
Sebentar-sebentar, aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang dibawa lari oleh Dewa Perempuan itu.” Dukun mulai terbatuk-batuk. Salah satu dari penduduk kampung menyuguhinya minuman.
“Oh, si wanita rupanya. Dari balik cengkeraman Dewa Perempuan, aku melihat kerudung putih terjulai.”
“Lalu ke mana perginya si lelaki, Dukun?” seorang bujangan dengan nada ingin tahu meracau tanpa izin.
Dukun geram imajinasinya dilangkahi. “Lelaki kembali ke rumahnya. Ia tidak mengurusi perempuannya lagi.” Dukun menyelesaikan narasinya.
Orang-orang kampung pintar sekali membuat kegaduhan. Usai dari rumah Dukun, mereka kembali ke balai. Mereka merasa sudah cukup mendapat bantuan dari Dukun.
Di sana, Janda dan Kekasih mematung. Suara tangisan Janda sudah tidak terdengar. Seorang lelaki yang tadinya bertanya kepada Dukun mengambil posisi berdiri di depan Janda.
“Anakmu diculik Dewa Perempuan. Kekasih tololnya ini, tidak menghalangi Dewa Perempuan ketika ingin menculik anakmu. Mereka dalam persetubuhan yang hina.”
Kekasih berdiri, ditatapnya dalam-dalam manik mata laki-laki yang berdiri di hadapan Janda.
Tiba-tiba dari dalam balai yang sedari tadi hening, keluar seorang lelaki dan perempuan dengan sarung menutupi belahan dadanya. Bulu-bulu pada sekujur tubuh Kekasih hilang, ia tidak lagi kerdil. Diumpatnya perempuan dengan sarung di dada itu.
“Aku mencarimu hampir gila, Sundal.”
Sleman, 28 Januari 2014

MELAMAR KUTUKAN


BUDIMAN diam-diam merobek jarit batik milik Seruni. Disimpannya sobekan itu di bawah bantal. Sebelum tidur, ia berkali-kali menciumi sobekan itu, lalu menggunakannya untuk mengelap keringat di dahinya. Sikap Budiman membuat Dermawan heran. Baru kali ini bapaknya itu bertingkah aneh.
Setiap pagi, Budiman berangkat ke pasar untuk mengantarkan sebakul kacang panjang. Ia memetiknya di kebun milik Rupawan, suami Seruni. Budiman adalah buruh kesayangan Rupawan. Ia berkali-kali diberi bonus tiap akhir bulan. Ia juga selalu dibiarkan makan sepuasnya di meja makan Rupawan. Kebaikan hati Rupawan membuat urat malu Budiman mengendur. Ia semakin lantas angan.
Ketika Rupawan buru-buru meninggalkan meja makan untuk berangkat kerja, ia acap berlama-lama duduk menguasai meja makan milik tuannya itu. Ia tidak segan-segan mengambil, bahkan menghabiskan segala macam hidangan yang tersedia. Dan, ia juga mulai mencoba-coba melirik Seruni. Seringkali disenggolnya telapak tangan Seruni ketika hendak mengambil lauk di hadapannya. Dan, malangnya, Seruni malah kian menjadi-jadi. Ia menunjukkan ekspresi malu-malu yang menjijikkan. Budiman makin lupa diri. Kali ini, ia berani menyenggol paha Seruni dengan pahanya.
Suatu hari, pada malam Jumat kliwon, Rupawan menitipkan rumahnya (dan istrinya) pada Budiman. Ia hendak ke kota menjemput bibit tanaman di tempat langganannya. Seruni merajuk minta dibawa, ia hendak pula sesekali merasakan nikmatnya berkeliling di kota. Dengan gedung-gedung tinggi pencakar langit, bias cahaya lampu-lampu oranye pada malam hari, ia hendak mengambil potret diri lalu memamerkannya pada istri-istri lain di kampung. Menyadari istrinya sudah salah niat, Rupawan menolak. Ia bersikeras akan pulang lebih awal. Ia berjanji akan datang ke kota mengambil bibit saja, lalu buru-buru pulang kepada Seruni.
Seruni diam. Ia mengumpat suaminya dari dalam hati.
***
Memang dasar Budiman tidak tahu diri, baru saja Rupawan melangkahkan kaki dari rumah, ia sudah mengintip dari balik pagar. Begitu Rupawan menaiki delman menuju terminal, ia sudah tiba di ruang depan.
“Ini pukul satu malam, Man.” Seruni membawakannya secangkir kopi pekat dan semangkuk ubi rebus.
“Memangnya kenapa jika pukul satu malam? Bukankah pada tengah malam kau terlihat semakin cantik dan menggairahkan?” Budiman mulai berseloroh nakal. Ia meneguk kopi lalu melirik kepada Seruni yang mulai salah tingkah.
“Ah, kau ini. Baru saja suamiku pergi, kau sudah nakal.”
“Jangankan ketika suamimu pergi, suamimu di sini saja... aku memang sudah nakal.” Budiman sudah tak berhambat, dirangkulnya pinggang Seruni lalu didudukkannya di atas pangkuannya. Ia menciumi bahu Seruni dari balik punggung.
“Oh, beginilah rupanya bau perempuan ayu yang baru ditinggal suaminya beberapa menit.”
***
Pagi-pagi sekali, Budiman heboh di rumahnya. Ia menendang Dermawan yang masih nyenyak tidurnya. “Hei, kau mencuri sobekan jarit batik Seruni dari bawah bantalku?”
Dermawan terbit pula murkanya. Dihantamnya perut Budiman, lalu berteriak di depan mukanya. “Apa urusanku dengan jarit batik Seruni-mu itu.”
Budiman kesakitan. Hantaman Dermawan pada perutnya membuatnya ingin muntah-muntah.
Ia tidak ke kebun. Dari rumahnya, ia berjalan lemah ke rumah Rupawan. Di sana, ia menghadap Rupawan dan berkeluhkesah atas sakit di perutnya. Rupawan merasa kasihan sekali, dicarikannya obat lalu dibawakannya makanan untuk Budiman. Ia juga menyuruh Seruni menemani Budiman lantaran ingin mengambil kacang panjang sebentar. Ia takut kalau-kalau sakit perut Budiman semakin parah.
“Mengapa Dermawan melawan kepadamu, Man?” Seruni mengaduk bubur hangat yang disiapkannya untuk Budiman.
“Aku menuduhnya mengambil sobekan jarit batik milikmu yang kusimpan di bawah bantalku.”
Budiman lupa satu hal. Kepada dukun tempat ia bertapa, ia dilarang memberitahu Seruni tentang sobekan jarit batik Seruni yang dicurinya.
Seruni seakan menjadi singa hutan. Ia melemparkan bubur di hadapannya ke arah Budiman. Budiman terperanjat. Ingin sekali ditariknya kata-katanya agar tak pupus cinta Seruni kepadanya.
Budiman mencoba merayu seperti yang sudah-sudah, dengan perut yang masih perih bekas hantaman anaknya, ia mengelus bahu Seruni.
Seruni menepis, ditinggalkannya Budiman lalu berlari ke kebun menemui suaminya. Ia terisak, ia seperti disadarkan. Ia bersujud kepada suaminya, dilontarkannya segala ulah Budiman atasnya.
Memang dasar Rupawan si baik hati, tidak peduli dengan berlimpahnya hartanya, tampan mukanya, ia berjalan tenang ke rumah. Ditemuinya Budiman baik-baik. Lalu ditanyakannya keadaan perut Budiman.
Budiman menduga Rupawan akan memakinya, lalu memecat atau menjadikannya penjahat kampung. Budiman sembah sujud kepada Rupawan. Ia pura-pura menyesal, dan mengeluarkan sumpah-sumpah yang sebenarnya palsu.
Rupawan tersenyum santai. Dari balik saku celananya, dikeluarkannya pula sesobek jarit batik.
Budiman terperangah. “Hei, dari mana kau dapatkan sobekan jarit batik istriku?” ia melotot menghadap ke Rupawan.
“Kita impas. Aku sudah terlebih dahulu memohonkan kutukan  atas istrimu.” Rupawan terkekeh, ia semakin tampan.
Sleman, 31 Januari 2014